Jati Diri Semar (#1 dari 5)

Jati Diri Semar (Konteks Pakeliran dan Kosmologi Jawa) (#1 dari 5)

Nawawi

Dosen Tetap Jurusan Dakwah (Informatika) di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.

Pendahuluan



Tokoh Semar hampir selalu muncul dalam setiap pentas wayang purwa, tidak saja pada lakon carangan yang dikutip dari babon epik Mahabarata dan Ramayana. Penampilan dan perannya yang ambiguous mengundang penafsiran yang beraneka ragam. Misteri posisi Semar menarik untuk ditelaah dalam kancah modernisasi dan globalisasi yang melanda segala pelosok penjuru dunia. Ini penting agar bangsa Indonesia tidak terlalu jauh terperangkap ke dalam peradaban global dan melupakan akar budayanya. Lantaran tokoh Semar ini tidak tercantum di dalam cerita Mahabarata asli, maka tokoh ini tentunya merupakan sisipan dalam pakeliran wayang, yang direka oleh orang Jawa sendiri.

Banyak telaah tentang tokoh Semar ini yang telah dilakukan, baik oleh sarjana asing maupun sarjana Indonesia. Kesan pertama peran Semar adalah sebagai punakawan, yaitu pamong para ksatria, yang dikategorikan sebagai wayang tengen yang merupakan representasi dari sifat-sifat baik dan bijak pada diri manusia. Selain itu, Semar juga berperan sebagai tokoh banyolan penghibur para ksatria dan secara praktis bagi penonton. Telaah yang agak mendalam adalah yang telah dilakukan oleh Sri Mulyono dan Franz Magnis-Suseno. Tulisan ini berupaya mengorganisasi kembali pendapat Sri Mulyono yang saya anggap agak simpang-siur, namun telah menyajikan fakta yang amat mengesankan. Sekaligus di sini saya akan menganalisis interpretasi Magnis-Suseno tentang peran Semar sebagai pamong dalam perjalanan hidup manusia, yang disejajarkan dengan konsepsi pamong dalam teologi monotheisme.

Memang, benar tokoh Semar ini adalah ambiguous dan misterius 1, namun bukannya tidak dapat dipahami. Dalam upaya memahami keberadaan Semar, Sri Mulyono mencoba menginventarisasikan pendapat-pendapat para ahli dan menelusuri kitab-kitab kuno yang menyebut nama Semar beserta peranannya. Berdasarkan indikasi itu ia menarik kesimpulan hakekatnya untuk menjawab pertanyaan apa dan siapa Semar itu. Akan tetapi, interpretasi dan kesimpulan Sri Mulyono sering menyajikan pernyataan-pernyataan yang mengejutkan dan tidak relevan dengan fakta yang ada. Lagi pula interpretasinya kurang terorganisasi dan terkesan menyesatkan.

Misalnya, ketika ia menelaah peran Semar dalam cerita Sudamala, yang pada intinya berisi cerita Sadewa meruwat Bethari Durga menjadi Dewi Umo kembali 2, diinterpretasikan sebagai dewa yang ditolong oleh manusia. Semar hadir dalam cerita ini sebagai pengantar Sadewa dan menungguinya ketika Sadewa diikat di bawah pohon randu. Interpretasi Sri Mulyono menyatakan bahwa “cerita ini mudah dimengerti maksudnya bahwa dewa tidaklah lebih daripada manusia. Pemunculan Kyai Lurah Semar itu jelas dan mudah dimengerti kalau berselubung dan bermaksud mengingkari dan tidak mengakui lagi kekuasaan Siwa sebagai Mahadewa dan Mahakuasa” 3. Padahal Sadewa baru mampu meruwat Bethari Durga setelah Bethara Guru memasuki badan Sadewa. Dengan kata lain, sebetulnya yang mensucikan Bethari Durga adalah Bethara Guru sendiri, dengan sarana Sadewa. Interpretasi itu dilanjutkan: “Munculnya Semar dalam cerita Sudamala merupakan penegasan dan penampilan kembali konsepsi ke-Tuhanan. Mulai saat itu jagat wayang Bethara Guru sudah tidak lagi mempunyai kedudukan sebagai Mahadewa dan Mahakuasa yang kemudian kesaktiannya telah digeser oleh Semar”4. Pernyataan ini kelihatan berat sebelah yang berpandangan Semar sentris, dan mengabaikan peran Bethara Guru dalam pakeliran wayang maupun dalam kosmologi Jawa. Sesungguhnya, menurut cerita Manik Maya dan juga pada pentas wayang, Bethara Guru, Semar dan Togog itu satu kesatuan, tetapi masing-masing memiliki aspek dan peran yang berbeda. Kerangka pandangan inilah yang memerlukan penjelasan, dan analisis ini akan berupaya ke arah penjelasan itu.

Pernyataan Sri Mulyono sering pula bersifat kontradiktif. Kadang-kadang ia berbicara bahwa Semar adalah benar-benar manusia yang pernah hidup di jaman kuno di Jawa, dan ini ditarik dari indikasi-indikasi yang tidak ada relevansinya. Ketika ia menarik kesimpulan dari kutipan tulisan Hazeu, yang kurang-lebih berisi tentang nama-nama punakawan itu kuno, tidak dapat diterangkan artinya. Semar itu tidak lebih dari pelawak atau pelayan biasa. Ia pelindung tuannya, disegani dan dihormati, dan tahu rencana dewa, tempat tuannya minta nasehat. Atas dasar informasi ini, dan mungkin juga tambah pengetahuannya, ia menarik kesimpulan bahwa: “Dari penjelasan tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam banyolan atau lawak yang khusus itu sudah dapat diketahui bahwa itu merupakan peninggalan dari sebuah pertunjukan bayang-bayang yang primitif yang berkembang dan berasal dari jaman purba. Dan jelaslah bahwa Semar merupakan nama dari salah seorang leluhur (nenek moyang) Jawa asli yang bayangannya sudah dipertunjukan dalam permainan bayangan atau wayang dari jaman purba itu”.5

Di bagian lain Sri Mulyono mengatakan bahwa Semar itu adalah samar dan misteri,6 dan ia menginterpretasikan konsep samar ini dengan cara yang sangat menyesatkan. Ia mengatakan bahwa “Semar berasal dari kata samar yang berarti samar-samar, tidak jelas, meragukan, penuh rahasia, penuh teka-teki, pendek kata misterius”. Ia juga menjelaskan bahwa kata “samar” dapat menjadi kata kerja yaitu nyamar, yakni melakukan sesuatu yang rahasia. Tetapi, ia menarik kesimpulan yang amat berbeda konteksnya sehingga dalang mengartikan Semar adalah manusia yang sudah tidak ‘samar’ lagi atau tidak ragu-ragu lagi terhadap segala sesuatu. Penambahan kata ‘tidak’ di depan kata samar, maknanya menjadi kontradiktif. Dari seluruh telaah tentang apa dan siapa Semar, ternyata Sri Mulyono belum memahami hakekat Semar dalam mitos dan dalam pakeliran wayang.

Lain lagi interpretasi Franz Magnis-Suseno yang menganggap tugas punakawan itu tidak sekadar membanyol, melainkan yang sebenarnya bertugas mengantar ksatria utama dalam lakon pentas wayang 7. Tugas ini ditafsirkannya sebagai pamong ksatria. Siapa yang diantar Semar, tidak pernah gagal dalam tugasnya dan tidak kalah dalam perang. Para pandawa tidak bisa dikalahkan itu sebenarnya bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena mereka diantar oleh Semar. Andaikata Semar meninggalkan Pandawa, mereka pasti hancur.8 Kesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta keseluruhan yang kurang dipahami akan menyebabkan kesesatan. Kekhawatiran akan kalah adalah tidak sama dengan kekalahannya itu sendiri. Dalam serat Mahabarata asli, Pandawa tidak pernah kalah perang melawan Kurawa, tanpa kehadiran Semar sekalipun dengan pengorbanan yang sangat besar.

Selanjutnya pada alinea-alinea kesimpulan agaknya Magnis-Suseno bersiasat meruntuhkan upaya mistik yang mendasarkan kekuatan diri manusia sendiri yang dicontohkan oleh upaya Bima. Upaya ini disangsikan keberhasilannya, bahkan memastikannya akan membawa manusia ke arah bahaya kesombongan dan penilaian diri yang kurang wajar. Melalui tesis Semar sebagai pamong perjalanan hidup manusia, keruntuhan upaya mistik mengkondisikan pembenaran peran pamong sebagai alternatif utama perjalanan hidup manusia menuju ke kerajaan Tuhan. Semar memberi tekanan yang sangat berbeda. Karena para satria yang paling sakti pun, seperti Arjuna, akhirnya menang, bukan karena kesaktian mereka itu, melainkan karena diantar oleh sang pamong Kyai Lurah Semar, karena itu penonton menyadari bahwa sebetulnya kita memerlukan seorang pamong di perjalanan hidup kita. Bukan kekuatan kitalah yang menyelamatkan dan mendekatkan kita kepada Tuhan, melainkan bimbingan yang akhirnya berasal dari Tuhan sendiri.9

Paradigma teologi dan filosofi yang sangat berbeda, tentu menjadi naif jika untuk melihat fakta-fakta religius di luar konteksnya.Di sini kuasa mutlak telah dipersonifikasi, yang pada dasarnya tidak dikenal dalam paham kejawen. Seperti telah disebutkan bahwa dalam Mahabarata asli Pandawa tetap menang perang melawan Kurawa sekalipun tanpa kehadiran Semar sehingga tesis di atas itu tidak dapat berlaku pada posisi dan peran Semar dalam konstelasi kosmologi Jawa maupun dalam pentas wayang. Agaknya tokoh Semar diciptakan oleh orang Jawa sendiri yang dibebani peran sebagai pamong para ksatria yang diskenario sebagai pemenang dalam perang, dan Togog mengikuti yang kalah. Itulah sebabnya, Bethara Guru, Semar dan Togog, sebagaimana tokoh wayang lainnya, seharusnya dipahami sebagai wujud simbol yang bisa jadi mempresentasikan muatan multivokal. Maka pemahamannya seharusnya menempatkan tokoh-tokoh simbolis itu dalam konteksnya. Sebenarnya, menang atau kalah dalam pentas wayang itu adalah idealisme simbolis berisi ajaran yang berguna sebagai orientasi perbuatan manusia dalam hidup sehari-hari.



Endnotes



1 Sri Mulyono, Apa dan Siapa Semar (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hal. 29-32.

2 Sri Mulyono, Wayang Asal Usul, Filsafat dan Masa Depannya (Jakarta: Gunung Agung, 1977), hal. 35.

3 Ibid., 1982, hal. 13-14.

4 Sri Mulyono, Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (Jakarta: Gunung Agung, 1983), hal. 98.

5 Harun Hadiwijono, Kebatinan Jawa Dalam Abad XIX (Jakarta: Gunung Mulia, 1985), hal. 26.

6 Sri Mulyono, Simbolisme, hal. 112.

7 Franz Magnis-Suseno, Wayang dan Panggilan Manusia (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 21.

8 Ibid., hal. 37.

9 Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi dan Masa Depannya (Jakarta: Gunung Agung, 1988), hal. 43.

BERSAMBUNG KE BAGIAN (2)

0 komentar:

Posting Komentar