Jati Diri Semar (#2 dari 5)

Jati Diri Semar (Konteks Pakeliran dan Kosmologi Jawa) (#2 dari 5)

Nawawi

Dosen Tetap Jurusan Dakwah (Informatika) di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.


Semar dalam Mitos


Serat Sudamala -karya sastra Jawa tertua- menyebutkan bahwa, Semar berperan sebagai pengantar Sadewa, ketika ia dikorbankan oleh Dewi Kunthi yang dipersembahkan untuk Bethari Durga dan diikat di bawah pohon randu. Dalam serat ini, peran Semar adalah sekadar pengantar Sadewa, dan Sadewa baru mampu mensucikan (meruwat) Bethari Durga, setelah Bethara Guru memasuki badan Sadewa. Oleh karena itu, anggapan Sri Mulyono10 tentang peran Semar dalam konteks ini adalah berlebihan.

Selain itu, nama Semar juga disebut-sebut sebagai pengantar Bima dalam serat Nawaruci, yang ditulis pada abad XV. 11 Agaknya tokoh Semar dan perannya sudah berkembang dalam cerita lisan sebelum dan selama abad XV itu. Kemunculan nama Semar dalam mitos memakai beberapa nama dan sebutan, maka hal itu memerlukan penyelidikan tersendiri.

Karya sastra Jawa lain yang memaparkan mitos kejadian, yang menyebut-nyebut nama Semar, adalah Serat Manik Maya, Serat Kanda, dan Serat Pustaka Raja.

Serat Manik Maya, menurut R. Tanoyo dalam Wirid Hidayat Jati12 disusun pada jaman Mataram Kartasura. Proses kejadian Bethara Guru dan Semar dalam Serat Manik Maya adalah sebagai berikut: Tatkala masih awang-uwung belum ada bumi dan langit, yang ada terlebih dahulu adalah Sang Hyang Wisesa. Dia diam di tengah semesta, tidak bergerak, di dalam batinnya memusatkan pujiannya, menyatakan kehendak Mahapati memulai adanya lakon kehidupan. Kemudian mendengar ada suara, bunyi seperti genta. Seketika Sang Hyang Wisesa terperanjat, lalu melihat sesuatu tergantung di angkasa, berupa seperti telur. Segera telur itu dipegang dan disangga di atas telapak tangan, dicipta menjadi tiga unsur. Unsur pertama dijelmakan menjadi bumi, unsur ke dua menjadi teja dan cahaya, dan unsur ke tiga menjadi Manik dan Maya.

Sang Hyang Wisesa berkata kepada Manik: “Kau ketahuilah, bahwa kau itu keadaanku, Aku adalah keadaanmu. Aku percaya padamu, segala sesuatu yang hidup di dunia ini, kau kuasa menjadikan”. Maya segera berkata kepada Sang Hyang Wisesa, “Bagaimana kehendak paduka itu, paduka menjadikan saya berlainan bentuknya dengan Manik. Manik adalah sangat bagus, cahayanya berkeliauan, sebaliknya rupa saya amat jelek, serta cahaya saya sangat hitam”. Sang Hyang Wisesa menjawab: “Maya kau ketahuilah, itu adalah kehendak Hyang Mahapati, jangan terlalu bersedih, kau kuberi permata murni disebut Retnodumilah, tak ada yang dapat menyamai, segala sesuatu yang dikehendaki akan tercapai atau terlaksana, aku tempatkan di kuncungmu. Dan lagi mengenai cahaya hitam itu kenyataan yang tidak berubah-ubah, berkurang dan bertambah setiap hari, matahari juga tidak berubah selamanya. Hitam itu sesungguhnya untuk menyamar, yang nampak ada ini sesungguhnya tidak ada, yang sesunguhnya ada dianggap bukan, yang bukan dianggap benar, yang tajam hatinya dihilangkan ketajamannya sebab takut jika bertindak keliru. Si Manik aku sebut sebagai Bathara Guru, kau Maya Aku sebut sebagai Bethara Semar, raja di dunia”. Bethara Semar bersembah dan mohon diri turun ke bumi ke tujuh. Dikatakan Sang Hyang Wisesa memerintahkan Bethara Guru mendekat untuk diajar segala rahasia, kepandaian mengelola segala macam tanaman.13

Kutipan di atas secara implisit menyatakan bahwa kejadian Bethara Guru dan Bethara Semar berawal dari Sang Hyang Wisesa secara emanasi melalui tujuh tataran. Proses emanasi tujuh tataran itu juga dapat dijumpai dalam Serat Pustaka Raja, Serat Kalimasada dan Serat Babad Tanah Jawa. Kitab yang terakir ini adalah saduran dari Serat Kanda. Serat Kanda ini dinilai oleh Tanoyo 14 sebagai campur-aduk antara cerita-cerita Jawa dengan cerita Arab. Dalam kitab ini posisi Sang Hyang Wisesa digantikan dengan Nabi Adam.

Hal yang lebih penting bahwa mitos itu menggambarkan terjadi-nya proses emanasi dari pusat transendental menuju alam mondial melalui tujuh tataran.15 Jika kita amati, mulai dari Nabi Adam sampai Bethara Guru dapat dihitung ada tujuh tataran. Dalam cerita itu Manik Maya atau Bethara Guru dan Semar menjadi imanen di alam mondial; dan disebutkan secara jelas bahwa Manik Maya adalah perwujudan dua sifat, yaitu Manik yang diasosiasikan dengan Bethara Guru, dan Maya diasosiasikan sebagai Semar. Sekalipun nama Semar tidak secara eksplisit disebutkan dalam cerita Babad Tanah Jawa, tetapi sebetulnya secara implisit, Semar atau Bethara Ismaya adalah satu kesatuan dengan Bethara Guru. Dengan kata lain, Semar adalah aspek fisik dari Bethara Guru.

Atas dasar paparan Serat Manik Maya, Semar memiliki cahaya hitam dan permata murni, yang bernama Retnodumilah dan ditempatkan di kuncungnya. Cahaya hitam dari Semar itu sebetulnya berfungsi sebagai penyamar. Disebutkan dalam Serat Manik Maya itu bahwa: “Hitam itu sesungguhnya untuk menyamar, yang tampak ada itu sesungguhnya tidak ada, yang sesungguhnya ada dianggap bukan, yang bukan dianggap benar,…”. Dari hal itu, muncul pertanyaan, apa yang sebenarnya disamarkan itu, tidak lain adalah kenyataan hakekat hidup yang transendental. Menurut konsepsi orang Jawa disebut sebagai sunya atau sunya ruri, menjadi alam mondial yang semu, atau hakekat hidup yang bersifat mutlak menjadi dunia yang semu, termasuk diri manusia ini. Diri manusia direpresentasikan dengan Manikmaya atau Bethara Guru dan Semar yang imanen dalam diri manusia sendiri, di mana manik menjadi sifat hidup yang kondisinya sama dengan Sang Hyang Wisesa. “Kau ketahuilah bahwa kau adalah keadaanku, Aku adalah keadaanmu. Aku percaya padamu, segala sesuatu yang hidup di dunia ini kau kuasa menjadikannya”.16

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, manik itu berkedudukan di dalam kepala manusia, atau dapat diasosiasikan menjadi daya cipta atau daya pikir manusia. Juga dalam ajaran Triloka, yaitu Guru Loka, Indra Loka, dan Jana loka17, Bethara Guru berkedudukan di kepala manusia. Dengan demikian, alam mondial ini, termasuk juga diri manusia, sesungguhnya adalah maya atau samar. Oleh sebab itu, sering diungkapkan sebagai mayapada. Menurut konsepsi Kejawen, alam mayapada ini sebetulnya tidak ada atau semu, tetapi hanya merupakan bayangan dari hakekat kenyataan hidup yang transcendental. Yang sebenarnya ada adalah hakekat hidup yang transenden itu atau Hyang Ilahi. Kuasa mutlak Hyang Ilahi memancar dari titik sentralnya secara sentrifugal, menuju alam mondial melalui proses penyamaran atau pembalikan (jagad walikan) karena berfungsinya Semar. Semua itu direpresentasikan dalam pentas wayang.



Endnotes


10 Sri Mulyono, 1982, hal. 13.

11 Prijohutomo, Kesusastraan Jawa, Empat Serangkai (Jakarta: Yayasan Pembangunan, 1952), hal. 20.

12 R. Tanoyo, Wirid Hidayat Jati (Rangga Warsita, 1892), (Surabaya: Trimurti, 1966), hal. 132.

13 Niels Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari hari Orang Jawa, Kelangsungan dan Perubahan Kulturil (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 78.

14 R. Tanoyo, 1966, hal. 147.

15 Clifford Geertz, The Religion of Java (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), hal. 110.

16 Seno Sastroamidjojo, Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kulit (Jakarta: PT. Kinta, 1964), hal. 96.

BERSAMBUNG KE BAGIAN (3)

0 komentar:

Posting Komentar