Jati Diri Semar (#5 dari 5)

Jati Diri Semar (Konteks Pakeliran dan Kosmologi Jawa) (#5 - TAMAT)

Nawawi

Dosen Tetap Jurusan Dakwah (Informatika) di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.


Kesimpulan


Peraga wayang, Bethara Guru, Semar, dan Togog seharusnya dicermati sebagai wujud simbol, dan harus dipahami dalam konteksnya, yaitu struktur kosmologi Kejawen. Pentas wayang itu merepresentasikan pertentangan batin manusia, antara dorongan-dorongan nafsu untuk berbuat jujur, baik, bijak, dan kasih-sayang melawan dorongan nafsu badaniah yang angkaramurka, jahat dan tidak jujur. Struktur ini tampak jelas dalam episode perang kembang, di mana tokoh Semar dan Togog hadir. Semar mengiringi pihak ksatria dan sebagai pengendali dan pemberi arah dorongan nafsu kebaikan dan kejujuran. Togog pada posisi lawannya, mengiringi pihak raksasa, yang merupakan representasi dari dorongan nafsu badaniah dan angkaramurka. Oleh karena itu dalam pakeliran, Semar adalah orang miskin, dan Togog adalah orang yang kaya raya.

Struktur episode perang kembang dalam pentas wayang itu agaknya merupakan transformasi dari struktur kosmologi Kejawen, di mana tokoh protagonisnya merupakan representasi dari nafsu-nafsu manusia: Mutmainnah, Sufiah, Amarah, dan Aluamah. Nafsu ini dikelompokkan menjadi dua faksi, yakni nafsu badaniah berhadapan dengan nafsu rohaniah, nafsu badan kasar berlawanan dengan nafsu badan halus. Posisi Togog berhadapan dengan posisi Semar, pengen-dalian nafsu angkaramurka berlawanan dengan pengendalian kebajikan.

Protagonis Bethara Guru, Semar, dan Togog adalah imanen di alam mondial, di dalam diri manusia. Semar berfungsi sebagai penyamar dari hakekat hidup transendental menjadi alam semesta yang dipersepsikan sebagai maya atau semu. Konsepsi ini adalah pembalikan dari hakikat kenyataan hidup transendental, yang dipersepsikan sebagai kebenaran hakiki menjadi alam semesta yang semu. Ibaratnya seperti orang yang sedang bercermin, melihat bayangan sendiri yang semu, atau pemutaran film, juga pentas wayang adalah lambang dari prinsip ini.

Daftar Pustaka


Geertz, Clifford, The Religion of Java. Chicago and London: The University of Chicago Press, 1976.

Hadiwijono, Harun. Kebatinan Jawa dalam Abad XIX. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1985.

Mulder, Niels. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa, Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta: Gramedia, 1985.

Prijohutomo. Kesastraan Jawa, Empat Serangkai. Jakarta: Jajasan Pemba-ngunan, 1952.

Magnis-Suseno, Franz, SJ. Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia, 1988.

____________. Wayang dan Panggilan Manusia. Jakarta: Gramedia, 1985.

Mulyono, Sri. Wayang Asal-Usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta: Gunung Agung, 1977.

_____________. Apa dan Siapa Semar. Jakarta: Gunung Agung, 1982.

_____________. Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang. Jakarta: Gunung Agung, Jakarta, 1983.

Rassers, W.H. Panji the Culture Hero, A Structural Study of Religion in Java. The Hague, Martinus Nijhoff, 1969.

Reditanoyo, Kyai Demang. Pakem Pangruwatan Murwa Kala. disadur oleh R.Tanoyo, Solo: Keluarga Tanoyo, 1964.

Sastroamidjojo, Seno. Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kulit. Jakarta: PT. Kinta, 1964.

Soediro, S. Wayang Kulit Purwa, Makna dan Struktur Dramatikanya. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Javanologi, Depdikbud, 1983.

Soehardi. Tarikat, Suatu Tinjauan Laku Mistik dalam Masyarakat Jawa, Javanologi, Jakarta: Depdikbud, 1985.

Soehardi. Makna Pertunjukan Wayang Purwa, Suatu Kajian Antropologi Simbol. Yogyakarta: Laporan Penelitian Fakultas Sastra UGM, 1995.


TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar